Thursday, September 16, 2010

:: secarik surat untuk Kamu

Aku ingat pernah berbincang sangat intim dengan kamu. Aku bahkan belum lupa betapa seringnya aku menyapa kamu sambil bercerita perihal hal remeh-temeh yang tengah aku rasakan dan aku jumpai. Pelukan dan gamitan tanganmu pun masih terasa sangat menenangkan sekaligus menyenangkan. Kita berbagi segalanya. Selalu, tanpa sedetikpun lewat. Tak pernah aku merasa sendirian. Kamu -- dengan begitu baiknya tak pernah absen menemaniku menyusuri setiap jalan yang terbentang di depanku.

Meski sosok kamu tak pernah bisa diguratkan, bahkan dalam satu tarikan siluet pun, tapi aku tahu kamu selalu ada. Ya, kamu selalu berjalan disisiku dan bersedia tanpa syarat menjadi pemandu sekaligus penguatku. Adanya kamu didekatku membuatku yakin dan semakin yakin pada setiap langkahku. Walau bisa jadi itu bukanlah langkah yang paling tepat dan mungkin aku tersandung atau malah tersungkur, tapi aku tahu bahwa tanganmu selalu ada untuk meraihku supaya kembali bangun serta melanjutkan perjalanan.

Ketika benar-benar menyatu denganmu, ketakutan dan keresahanku pada banyak hal berangsur memudar. Percaya sepenuh hati bahwa aku memiliki kamu menjadi esensi yang sangat cukup bagiku. Sebuah rahmat terbaik.

(source: getty images)

Beberapa kali aku pernah bertanya apa sebabnya kamu menyayangiku dengan sangat. Aku tak pernah merasa memberikan sesuatu yang berharga buat kamu. Rasanya aku belum bisa membuatmu tertawa sedemikian lebar atapu tersenyum sedemikian senang. Lalu, ada juga masa aku terheran-heran menyadari bahwa apa yang menjadi inginku kerap menjadi kenyataan. Meski saat aku mengutarakan inginku itu, akupun berbicara hanya sepintas lalu. Bukan karena aku tak sungguh-sungguh ingin akan hal tersebut. Hanya lebih karena aku tak yakin apakah inginku dapat menjadi nyata.

Tapi, lagi-lagi kamu menghadiahkannya untukku. Sebagai sesuatu yang real yang bisa aku nikmati. Lagi dan lagi, kebaikanmu kamu memenuhi kepala, tubuh dan jiwaku.

Serentang waktu lalu, aku pernah menjauh darimu. Mendiamkanmu dan mengikuti jalanku sendiri. Beberapa kali sapaanmu aku abaikan. Saat itu banyak hal telah aku raih dan aku jumawa. Aku cuma ingin menikmati senangku sendiri, tanpa diusik oleh pihak lain -- meskipun itu kamu.

Sebenarnya aku tidak pernah lupa semua hal baik itu datangnya dari padamu. Aku hanya enggan dan emoh mengingatnya.

Tapi senangku ternyata berubah menjadi semu. Aku berjalan dengan gamang dan tak pasti. Langkahku banyak menyimpang. Seketika bongkah-bongkah bahagiaku jadi tak berarti dan kering makna sebab kamu tak lagi berinteraksi denganku. Hampa pun menjadi keseharianku. Rasa bersalah menjelma sebagai karibku.

Aah, aku kangen kamu. Mendamba bertukar-sapa denganmu dan membagi semuaku denganmu. Kamu adalah nyawaku, pijarku dan kehidupanku. Tanpamu, aku tiada.

Maaf buat semuanya Yesus dan semoga tanganmu masih terentang lebar buatku.

Tuesday, September 07, 2010

:: about the waterflow

"Semua orang pasti pernah berbuat salah. Kalau gak begitu, dia gak akan belajar."

Saya masih belum lupa bagaimana teduh wajahnya ketika mengatakan hal ini. Bahkan responnya yang menenangkan pun tetap terekam jelas, hingga saat ini. Setelah 3 tahun terlintas.

Tak pernah sekalipun dalam 5 tahun kebersamaan kami, saya melihatnya panik, kisruh ataupun lose control. Kepalanya selalu berpikir dingin dan hatinya senantiasa tenang. Tak peduli betapa ruwetnya pekerjaan kami atau singkatnya tenggang waktu yang kami punya, untuknya, setiap masalah selalu ada jalan keluar. Tak pernah ada salah yang tak bisa diperbaiki. Sebundel benang yang kusut pasti selalu dapat diurai.

She's someone special. She really is. Buat saya, dia salah satu dari sedikit orang yang memiliki kecerdasan seimbang pada kedua belah benaknya, di sisi kiri dan kanan. Ia jagoan menulis, membuat keramik, mencintai film-film bernuansa humanis, serta menyukai sesuatu yang berbau etnik dan patchwork. Di saat yang sama, ia pun cerdas dalam mendedah konsep-konsep marketing, management serta kreatif menggagas aktivitas pengembangan merek, dan mahir menggunakan berbagai aplikasi software.

Lewat tulisan-tulisannya, saya tahu bahwa dia senantiasa menghargai sesuatu yang sederhana. Hal-hal remeh yang sering terjadi di sekeliling kita dimaknainya sebagai sesuatu yang memiliki nilai dan patut disyukuri. Tulisannya tentang ibu, pohon flamboyan, hari ulang tahun, dufan versi kampung, hujan dan bintang tertulis dengan lugas namun menyentuh dan memberikan kesan tersendiri. Setiap selesai membaca tulisannya, seketika saya terasa diingatkan dan disadarkan akan berbagai hal sederhana yang sesungguhnya indah.

Ketika bekerja bersamanya, saya belajar banyak hal. Kebersamaan. Keyakinan bahwa kita pasti bisa. Ketenangan hati dan pikiran. Rasa saling mengandalkan dan percaya satu sama lain. Kerendahan hati. Beragam pengetahuan. Serta banyak lainnya.

Lima menit lalu, saya melihatnya berjalan keluar. Ada rasa sedih menghinggap. Rasa kehilangan menelusup. Entah kapan saya melihatnya lagi. Berharap segera.

Terimakasih untuk semuanya, Mbak Ninoy
You'll be missed here :).


Tuesday, June 15, 2010

:: By Today


We have traveled through the same corridor for almost 800 days.
We have spent most of our times by sharing the laughter and love, putting constructive critiques one another, exchanging stories, dreams, and wishes, and endlessly binding our hearts together.
I am gonna give a little surprise to melt your heart.
I am gonna uniquely utter my deepest feeling concerning your presence in my life.
I do hope you will call me and say “THANK YOU, GENDYUT!”
Would be perfect and unforgettable if I can see your happy smile upon your face.

H.a.p.p.y O.u.r D.a.y!!

Monday, January 25, 2010

:: About someone special who I used to call as "Mbak"

Jalinan kekariban kami diawali dari sebuah rahim. Sebuah wadah amniotik milik seorang wanita yang sama-sama kita panggil sebagai "Ibu". Entah siapa yang terwujud lebih dahulu, saya atau dia kah? Tak mengerti juga siapa yang lebih dahulu menghirup anasir O2.
Namun satu yang absolut adalah bahwa kami berdua - mengawali hidup kami dalam sebuah ruang yang sama dan membagi apapun yang kami punya atau diberikan oleh Ibu untuk sama-sama bisa kami nikmati. Tidak egois pun tidak serakah.

Setiap hal kami arungi bersama. Tak ada secuilpun tentang dia yang saya tak paham. Begitupun sebaliknya. Kami mirip dalam banyak hal. Cara berkomentar, memandang masalah, bahkan menilai kepribadian dan tampilan orang lain. Wajah dan suara pun saling menduplikasi.

Ketika berbincang kami begitu "ajaib". Ada banyak hal yang bisa kami komunikasikan meski tak terungkapkan secara verbal. Saya bisa tahu apa yang akan dia ungkapkan meski di saat itu ide itu baru ada di benaknya. Begitupun dia. Kami terkekeh untuk satu kejadian yang mungkin bagi orang lain terlihat biasa saja. Kami mengerling dan bersitatap untuk satu hal yang diam-diam kami maknai dengan persepsi yang sama. Saat sebuah hal menjadi rahasia yang hanya boleh diketahu kami, maka bahasa andalan kami pun segera diperdengarkan.

Satu saat pernah saya begitu cemburu padanya. Hehe.. mungkin karena merasakan bahwa dia mempunyai banyak kelebihan yang saya ingin memilikinya. Tapi yang pasti, karena pada saat itu saya memiliki jiwa yang kerdil. Dan dia, seperti selalu hanya bersikap tulus meskipun dibarengi dengan rasa marah dan kesal. Hujaman sikap dan kata-kata saya yang tidak mengenakkan hanya disikapi dengan pertanyaan. Dia marah memang. Namun, keesokan paginya dia kembali seperti biasa. Ketulusan dan kebaikan ini menyadarkan saya akan banyak hal dan saya pun belajar banyak. Bahwa ikatan darah dan rasa sayang diantara kami adalah segalanya. Saya tak lagi peduli atas kekurangan saya dibanding dia. Tokh masing-masing kami memiliki kekhasan. Dia istimewa dengan caranya. Sayapun spesial dengan karakter saya :).

Kehadiran dia dalam hidup saya begitu berarti. Selama 30 tahun ini kami sudah dan selalu bersama. Dia selalu ada baik dalam titik terendah ataupun ketika saya tengah menikmati letupan bahagia. Tak pernah terlupa genggaman hangat tangannya ketika saya ketakutan menghadapi proses operasi lengan saya. Juga dukungannya yang begitu menguatkan saat saya gagal dalam ujian pengangkatan pegawai. Serta kata-katanya yang bernas dan tajam yang membuat saya berani dan percaya diri untuk melangkah ke depan. Ijinnya untuk meminjam segala kepunyaannya turut menjadi bukti betapa dia menyayangi saya. Maaf ya, Mbak.. kalau malah kadang-kadang Anti yang suka gak mau minjemin. :).

Beberapa bulan terakhir ini betapa saya merindukannya. Ingin berjalan berdua dan berbincang banyak hal secara lepas dan bebas. Kangen belanja bareng, menikmati kue cubit di pinggir lapangan Mega Kuningan, shopping murah meriah di Blok M, empet-empetan di kereta sambil bercanda dengan Angga -- teman kami yang super dodol, duduk berdua di Indomaret menunggu dijemput Bapak karena sudah tak ada lagi ojek untuk kami, mengitari Ambassador demi mencari baju pesta, dan banyak hal lainnya.

Sebentar lagi, sepertinya Mbak akan pindah. Sedih karena saya akan kehilangan dia. Meski rumahnya tidak seberapa jauh dari rumah kami, tapi pasti saya tak leluasa lagi untuk berbincang dengannya dikarenakan keterbatasan jarak, waktu dan kesibukan kami masing-masing. Namun, bagaimanapun saya bangga dengannya. Kini dia telah memiliki keluarga. Seorang suami dan anak laki-laki yang disayangi dan kami semua sayangi pula. Dia telah naik kelas. Dipercaya oleh Tuhan untuk menjalani sebuah tingkat yang lebih tinggi.

Congratsss ya Mbak.. Semoga bisa segera menyusul :).
I learn a lot from you...




Friday, January 15, 2010

:: Kemarin

Rasanya ingin sekali mengucap makasih untuk:
  • Sesama teman kreatif saya, yang selalu bisa bikin saya tertawa dan tersenyum gara-gara cerita dan polah yang lucu di keseharian mereka. Kejadian "yo..yo..yo dan konversasi khas rapper gagal kemarin BENAR-BENAR SEGAR!". Apalagi cerita tentang "nenek ditindih". Huahahahahaaha. Setiap mengingatnya, saya nggak punya kuasa untuk tertawa geli. Benar-benar geli dan merasa konyol sendiri. Yupe, kalian semua adalah hal baik yang mengingatkan saya untuk selalu bersyukur.
  • Bocah laki-laki kecil yang berdiri di depan rumahnya. Memandang kamu berbalut handuk yang menutup 3/4 tubuh sambil membawa gayung, dan berceloteh sambil tertawa SUNGGUH MENGHIBUR saya. Dan seketika langsung membatin, kamu memang KESAYANGAN DIA.
  • Ibu. Senang deh melihatnya tidur di samping saya. Cerita-cerita dan berkelakar dengannya.
  • Si Pengejar Layang-layang, yang pada banyak sisi mencerahkan semuanya.
  •  Optimisme yang dituangkan dari DIA.
  •  Si Kucil dan Plumpy yang centil, petakilan tapi nggemesin.

Bersama kalian semua MEMBAHAGIAKAN dan MENGUATKAN.
Terimakasih.

Monday, December 07, 2009

:: memento of you and me

1.
Drops of water. Soap screen. Swinging cold air. Just us. Short distance. Self disclosure. Giggles. Wrong reflex-action. You're shocked. Continuous giggles.

2.
Along pedestrian. Vietnam coffee. Lighting of hawkers. Hold one another hands. Under the dark sky. Get lost. Feel perplexed. Smiles - a big ones. Old oriental ambience. Bird cages. Retro style.

3.
New us. A bit up the hill. Dim light of dusk. Soul in companions. Sipping coffee. Savoring pasta. Green dale surrounds us. Shyly touches. Shyly pose. Blisfully happy.

4.
Asymmetric glass house. Couples everywhere. Disfunctioned fountain. Soccer. PW pictures. Stone chairs. Children. Cheerful racket.

5.
Soft pats. Tight snuggles. Walk arm in arm.

:: Bandung, some time in April 2008

Friday, December 04, 2009

I love stealing the charm

of your face,
when you're singing your favorite songs while mimicking the musician's style.

of your back,
when you're putting your eyes closely on adorable animals. You just quiet and enjoy the moment.

of your laugh, some boisterous laughter
when we, one another, throwing numbers of gentle ribbings and witty stories.

of your way,
when you explain something. It always comes clear, conscise, not so lectury, and logical.

of your wit,
as lot of my questions can be answered and problems can be solved.

of your positive thinking,
for it can comfort and soothe my jitter and anger.

of your freshness
after doing some certain activities :). Like it lots.

of your high determination
when working on something and getting things done.

of your simplicity, spontaneus and patience.

OF OUR TOGETHERNESS

Monday, October 12, 2009

Deep Thinking

It's time to step in the asylum.
...mmhh...
I just need some little time to find out the bright light in each matter.
May YOU stand by me.

----
----
----


Monday, August 10, 2009

Wrong Things, again!

I am so much regretting it.
All I'm say is I want to restart again. From the very zero point. Feel uncertain, but still insist on giving myself a try.
Besides, I deeply realize that THE DIVINE ONE loves me endlessly.
So, please walk arm in arm with me, God.

Wednesday, August 05, 2009

Fight on the Hesitancy

A tricky one page article.

Pheewww!!

For almost a week I keep doing on it.

Several sentences changed into the more appropriate ones.

As a matter of fact is not as simple as my thought before. It's quite uneasy indeed.

But after all, I WON'T KNUCKLE UNDER IT!!

I'll find the answers and present it well.

PS: Mrs. SB, I'm lucky to have a best friend like you. Thanks for helping me out.

Tuesday, August 04, 2009

Stages to Aurora

Then,
I embark on doing these and those.
Although sometimes tempted by many unimportant distractions, but I'm sure I can pass it through.
Again, it's all about being persistent and having determination.

Cause:
"The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams".
- Eleanor Rosevelt -

I am heading there. I promise you.

PS: So much grateful after having a very wise yet nurturing councel from MG.

Monday, June 01, 2009

A thrifty pleasure

Looking forward to seeing the acting of Rita Watson's hubby.
Will it be awesome as usual?
Hopefully.



Thursday, February 19, 2009

Kangen dengan Percikan2 Itu..

Setelah sekian bulan meluruhkan diri laksana mesin :-[
Setelah menganggap "beragam hal ajaib" tak bedanya dengan "sejumlah hal jamak" :-(.
Setelah (sempat) merasa kehilangan sekaligus merindu akan spektrum warna-warni "kesederhanaan-ala-saya", kini.. saya coba kembali menutrisi jiwa saya.
Sekarang waktunya mengaliri lagi setiap fragmen hidup saya dengan percikan-percikan kesenangan yang kecil, remeh, atau sebaliknya (cukup) besar tapi amat MENYEGARKAN.

Saatnya mulai kembali melakukan dan menikmati ragam habituasi serta spontanitas yang keseluruhan anasirnya membentuk banyak sunggingan senyum di batin saya.
Seketika dan bahagia.

Layaknya ia:













atau juga dia yang tambun dan lucu ini... (Haha, senang menatapnya lama-lama):









Terimakasih Tuhan...
Untuk semuanya dan terutama untuk "penyadaran" ini..

PS: Gambar diambil tanpa ijin dari getty images. Sorry ya ...

Wednesday, August 27, 2008

Lovely Traffic Jam(s)

Satu malam - tepatnya di beberapa hari lalu - saya sungguh menikmati panorama "kemacetan" yang disajikan oleh Jakarta.
Ah ya, sedikit aneh memang.
Sementara banyak orang mencerca dan mengutuki keadaan stuck dan melambatnya laju mobil atau motor yang mereka tumpangi; saya malah memanjakan diri dan mata dengan mengobservasi keadaan macet di sekitaran.

Karena...
Ada kemeriahan yang tersendiri: City light dari skycrapers, geliat hawkers yang tengah sibuk menjual barang dagangannya; pendaran sorot lampu kendaraan, para pejalan kaki yang menapakkan kakinya dengan bergegas dan suara dendang pengamen yang (kebetulan malam itu) bermain ciamik.
Saya senang berada di tengah-tengahnya.
Berada di antara putaran "derap penghuni Jakarta yang bergerak dengan cepat dan tergesa" yang berkawin bersama "ritme lambat kendaraan mekanis yang beroda".
Dua elemen yang berpadu meski kontradiktif.
Aaahh..
Saya juga menyukai udara dingin yang berputar dan celotehan yang mengambang di sekeliling.
Meraja atas kesendirian saya kala itu yang somehow memberikan rasa yang ringan, lepas, bahagia dan sedikit menjauh sejenak dari rutinitas.
Menikmatinya.

And so the windows mirroring my widely smile..

Monday, August 20, 2007

A sweet-hilarious thing of today

Ibuku ....
SELAMAT ULANG TAHUN!!

Semoga makin bahagia,
Di setiap harinya.

Dan kita semua sayaaaangg Ibu.
Banget!!


[Hi & Lo] Praise the Lord, for this day.. Thanks

Monday, July 30, 2007

Exploring the chummy nuances: me, you, and them..

Benton,
Savor the paratha and mutton briyani,
Bubur pitan,
Breezy wind,
Witty talks,
Capture all faces,
Click!!
Warmth of us,
Nitey nite,
Da,

Pal's wedding,
Drive and ride,
Kemang,
2nd upstair,
Irish blended coffee and cafe au lait,
Lemme tell myself,
Your turn,
Giggling,
Giggling,
Another wacky shoots,
Electrifying dialogues,
Meaningful intimacy,
Chinese checkers,
Dyadic relationships,
Politely seduction,
Boisterous laughter,
Crack of dawn,
Raspberry cheesecakes,
Flirtatious moments,
Gettin' closer,
Another temptation,
Hihi ;D
Last efforts,
Hugs and kisses,
Closing.

[Hi] A very cheery getaway
[Lo] When people cross some lines

Wednesday, July 25, 2007

Now Revealed! All 6 Weirdos Inside Me!!

Sebuah posting lanjutan sekaligus penuntasan dari lima posting sebelumnya: dia, doi, dese, doski dan sang perintis.
Check it out, readers...


As what I knew, gue belum pernah makan babi.
D-E-F-I-N-I-T-E-L-Y W-E-I-R-D!
Karena sebenarnya agama gue ngga melarang umatnya untuk makan daging babi.
Terlebih konon menurut ujaran teman-teman satu iman: "Daging babi tuh hwueeennaakknya minta ampuuuuuuunn...!" atau, "Umat Kristen itu harus menggenapkan nubuat Tuhan untuk menikmati lezatnya daging babi".
Haha, dasar dodol tuh sobit gue!! Kalee gituh ada firman Tuhan yang kayak gitu.


Anyway, saking penasarannya, sobit tsb sampai bersumpah bakal traktir gue makan daging babi dimanapun dan sebanyak apapun hingga gue puas!! No quantity limit.
Tapiiiih, gue tetep bergeming.
Alasannya apa ya? Mungkin karena agak geuleuh ngebayanginnya waktu pas hidup atau mungkin juga karena iba liat mukanya yg gendut-gendut pasrah..



Kalau disuruh milih, prefer cuaca dingin ataw panas? Kayaknya kalo gue, panas deh!!
Dari dulu, gue paling ngga tahan kena hawa dingin langsung. Banyak contoh untuk membuktikan keanehan tersebut.

a. Tiap hari, gue selalu bawa kertas bekas untuk nyumpel lubang-lubang AC di bis patas yang gue naikin tiap pagi.
Soalnya, kalau kepala gue ngerasa dingin dikit ajah, efeknya ga nyaman sepanjang jalan.

b. Hanya bertahan 2 menit saja kala menyaksikan "Snow World" di Bandung Super Mall. Heran, didalam orang-orang kok bisa berasyik masyuk menikmati indahnya suasana musim dingin. Foto sana..foto sini...jepret sana..jepret sini...Meanwhile, gue hampir mau mati kedinginan. Jari-jari kaki dan tangan mati beku. Belum lagi ditambah dengan insiden jatuh tergelincir.
Bbrrrrrrr, dingin paraahh disana itu!!

c. Males bangeth duduk di kursi belakang mobil pas di di sisi tengahnya, means diterpa AC langsung. Even AC-nya ga dingin2 amat, tapi begitu menempati posisi tersebut, sekonyong-konyong pikiran dan benak serentak tersugesti kalau badan gue bakalan menggigil kedinginan, gigi bergemeletuk, bibir bergetar, hati resah dan gelisah, duduk tak tenang, sedetik bagaikan sedekade (uups!! hiperbolis bin bombastis niy..)



Goyah-goyah menegangkan..
Nah ini dia..yang seringkali menjadi pusat perhatian teman2 terdekat.
Saat jalan, kaki gue sering sedikit oleng yang terkadang bisa berlanjut ke kejadian "jatuh".
Mungkin karena kaki gue agak kecil sehingga kurang kokoh menopang badan atas, jadinya sering tidak seimbang.

Satu kejadian p-a-l-i-n-g a-n-c-u-r:
Waktu kuliah, naik bis kuning yang ga ada tempat duduknya. Lagi asik-asiknya chit-chat-chut sama seorang sobit ikrib, tiba-tiba tuh bis ngerem mendadak.

Refleks menghindari jatuh, sontak gue megangin (lebih tepatnya: mencengkeram) lehernya si sobit, bukannya megangin handle di bagian atap bis.
Dooh, langsung deh si sobit megap-megap ngga bisa napas. KACAU!!
Begitu sadar betapa merananya dia, cengkeraman langsung gue lepas. Tapi ternyata lehernya si sobit ini begitu berkeringat, jadinya basah deh tangan gue. Hiiiyyyy....
(Situasi pun menjadi dilematis: antara senyum terimakasih dan ringisan geuleuh)
But afterall, domo arigatou gozaimasu sobit..for your favor!



A-war-movies-holic.
Actually, ga yakin siyh ini masuk kategori weirdo apa ngga.
Hanya menurut pengalaman selama ini, gue adalah salah satu dari sedikit cewek yang teramat menggandrungi film-film bertemakan perang.
Gemarnya kenapa ya?? Yang pasti, setiap ngelihat film perang, gue selalu merasa "life has so many things to be thankful for. Life is wonderfully grand!!"
Somehow, semangat dan daya juang untuk tetap hidup yang diperlihatkan oleh si pelaku perang bisa menyadarkan penontonnya untuk meyakini bahwa hidup tidak lagi dan tidak selamanya 'bitter', sehingga rasa-rasa gloomy, despair dan negative-thinking selayaknya dihempaskan jauh-jauh. *hush...hush..hush!!!*
Sensasi "ALIVE!!" yang kayak gini nih yang biasanya sangat kuat gue rasakan sehabis menonton film2 perang..
Ga terbandingkan deh...



Bisa banget menikmati kealamian pemandangan suasana pedesaan (bentangan sawah hijau, rumah tradisional khas Jawa, membasahkan diri di bawah pancuran) tapi disisi lain, paling emoh dan ga bisa berada di dekat bilik bambu.
Sebuah paradoks.
Yep, dari dulu gue tuh emang paling ga bisa duduk/berdiri di dekat-dekat dinding bilik bambu apalagi sampai menempelkan kulit tubuh ke bilik bambu tersebut. Rasanya kok ga nyaman banget..

Pernah, ga sengaja pas makan di restoran ala saung sunda, gue kebagian dapat tempat di sisi bilik. Mau pindah, tapi makanan udah terlanjur terhidang and kalo maksa, ribet banget prosesnya. Tak pelak, gue tetap ada di spot itu.
Dan, beuhh.... beneran yah, sepanjang makan itu gue diam ajah, makan juga ga abis, pengennya cepat-cepat selesai dan beranjak pindah ke spot lain.

Asli, beneran ga nyaman. Ga lagi-lagi deh!!
Sedang, kalau di hotel atau bungalow2 yang dindingnya berbilik, pasti gue ga mau tidur di bed yang bersebelahan dengan bilik bambu.
Solusinya:
1. Geser tempat tidur ke tengah-tengah menjauhi bilik.
2. Kalau no 1 ga memungkinkan, langsung pesen extra bed dan diletakkan jauh dari dinding bilik.
3. Kalau no 2, tenyata memakan budget yang mehel, bedcover/carpet pun digelar dan tidurlah gue dibawah.
Gak nyaman pasti, tapi hati tentram...



Baru inget, ternyata seumur hidup, gue juga belum pernah makan buah pisang.
Yang asli buah loh ya, belum digoreng, dibakar atau dibuat jadi isian kue.
Jadi, ga pernah tuh seumur-umur gue merasakan pengalaman membuka kulit pisang, terus memasukan buah pisang itu ke mulut dan melahapnya.
Jadi wondering juga, kayak apa ya rasanya???



Tuesday, June 26, 2007

Kepergian




Satu setengah tahun lalu....

Tepatnya 4 Januari 2006 adalah interaksi pertama saya dengannya.
Melihatnya sebagai calon boss yang akan mempekerjakan saya.
Mengenalnya lewat perbincangan yang kami lakukan dalam sesi wawancara.
Dari situ saya pun beroleh first impression tentangnya: pimpinan yang cukup menyenangkan, muda, santai, dan sangat tidak gap-centric.

5 Januari 2006, saya kembali bertemu dengannya.
Hari itu, melalui secarik kertas dipastikan bahwa Ia akan menjadi boss saya.
Berarti mulai besok dan hari-hari selanjutnya, saya mulai membiasakan diri dengan menyebutnya "Bapak".


***
Hari demi hari....

Mengakrabi diri dengan sosok Bapak yang kerapkali lalu-lalang di booth kami.
Ia, yang kadangkala hanya diam memandangi kami bekerja, atau di lain waktu melontarkan candaan kecil.
Ia, yang memberikan 'restu istimewa' buat kami untuk cuti setengah hari sehingga bisa menggila di Dufan.
Ia, yang menggelontorkan 'ijin' untuk bisa memakai celana pendek di hari akhir pekan.
Ia, yang dengan segudang 'peraturan yang melegakan': ngemil dan makan sesuka kami, mendengar radio di kala jam kerja, dan free for net all times, jam absen yang tidak terlalu ketat, ijin cuti 2 hari -- yang mestinya saya belum berhak untuk mendapatkannya, dsb.
Ia, yang juga pernah membuat saya terperangah dan sedikit kesal dengan kebijakannya memutus beberapa saluran komunikasi pribadi (btw, kotak surat yahoo saya rasanya sudah hampir 'mbledos' akibat jarang dibukanya surat-surat yang masuk).

Dan dalam kurun waktu 18 bulan ini, first impression saya tentangnya ternyata masih belum berubah.
***
25 Juni 2007...

Ia mengumumkan pengunduran dirinya di hadapan kami semua.
Kaget rasanya, tertegun, kerongkongan tercekat, ga tau mau ngomong apa.
Sedih.Bingung.Diam.Something's missing.
Meski sejumlah tanya berkecamuk di benak, tapi satu harap diurai "Semoga di depan sana, Bapak menjalani banyak hal yang lebih baik dan menyenangkan."
Satu ucap juga saya alun "BANYAK MAKASIH Pak buat bimbingan dan perhatiannya selama ini, pada kami-kami semua."
GBU, always..

***

Sunday, June 17, 2007

Pagi - Km. 19/A - Kopi


Waktu itu pagi. Pagi sekali.
Kalau tak salah ingat, langit masih diselubungi oleh awan-awan fajar dengan warnanya yang khas: merah pucat bercampur violet. Cuma pagi yang punya.

Deru mobil yang membawa kami berempat terus santer terdengar. Terlebih kala memintasi jalan tol Cikampek.
Dengan kaca jendela yang dibuka sedikit, memberikan hembusan angin sedikit kesempatan untuk menampar pipi.
Di luar jendela, rumpun dan alang-alang putih melantunkan nyanyi "Selamat Pagi!"

Suara desing dan deru mobil kami dan pengendara lain masih tetap dan terus terdengar.
Terus begitu...hingga...tiba-tiba terdengar pekik nyaring. Pekik kakakku.
"Belok kiri yah!", katanya.

Dan, berhentilah kami.
Di Km 19/A. Ruas tol Cikampek. Jam 7 pagi.
Mengolet-menggeliatkan badan-meluruskan sendi kaki yang hampir 2 jam lamanya tertekuk-menghirup udara pagi-dan memandang sekitar.
Kemudian, mengayun kaki ke gerai Starbucks.
Entah karena tempatnya yang bukan di mal atau area perkantoran, tapi di pinggir jalan tol, saya merasa gerai Starbucks disini istimewa sekali. Spesial dibanding yang lain.
Terasa atmosfir yang khas kedai kopi. (Di)ada(kan) di tengah-tengah jalan raya untuk menanti pejalan bersinggah dan melepas lelah.
Pesanan saya: hot espresso machiato
Begitu datang, wuiih...aroma kopinya langsung menguarkan kelezatan rasa.
Sambil memandangi lalu lalang mobil-mobil yang merayapi jalan tol, saya mereguk kopi itu.
Menyesap lapisan tipis buih susunya.
Menyeruput kopinya (buat saya, paling nikmat bila kopi diseruput dengan agak keras khas abang-abang).
Sssrruuupp...!!!
Lantas dalam diam, saya nikmati rasanya, sambil mencoba mendeskripsikan dan mengapresiasi kelezatannya.
Aah, kopi ini memang sejuta rasanya!!
Ditambah lagi oleh spotnya yang sangat spesial.
Makin berjuta-juta rasanya!!

Jam 8 pagi.
Dering telepon dan kerabat yang sudah menunggu kami mengingatkan bahwa perjalanan harus segera dilanjutkan.
Tetirah yang 'tidak biasa' pun usai.

*Potongan fragmen 'perjalanan menuju Garut', 28 April 2007.